Jelang hari raya Idul Fitri, hiruk pikuk kesibukan di rumah dimulai. Hari itu Bapak sibuk memperbaiki keran dan aliran air yang mampet. Karena memakan banyak waktu, Bapak tidak sempat ke masjid, jadi hanya bisa salat di rumah saja. Ketika mulai larut malam, saya lihat beliau melaksanakan solat Isya dilanjutkan dengan sholat tarawih. Saya tahu betul, Bapak sudah lelah karena habis beberes rumah, jadi untuk salat Isya saja pun sebenarnya sudah sangat cukup. Namun, malam itu, ia tetap bersemangat menghidupkan ibadah sunnah tersebut.
Momen itu berlangsung sekitar 8 tahun lalu sebelum Bapak berpulang. Berpulang bertepatan pada 2 Syawal. Meski itu sebetulnya adalah duka, hal itu juga menjadi core memory seumur hidup saya untuk selalu mensyukuri dan menghargai betapa berartinya sebuah waktu (re: Ramadan).
Bapak begitu bersemangat menjalani Ramadan pada tahun itu, yang ternyata itu Ramadan terakhir baginya. Hal itu juga yang membuat saya selalu "tersentil" tiap kali abai dalam memaksimalkan ibadah di bulan yang penuh ampunan ini. Tahun depan, apa kita masih bisa dipertemukan kembali?
Itikaf - Jeda dari Kehidupan yang Menyesakkan
Ini tahun ketiga saya ikut melaksanakan itikaf, salah satu amalan sunnah di bulan suci Ramadan. Saya meyakini sebuah hadist yang menyebutkan keutamaan bagi perempuan untuk ibadah di rumah saja. Tapi, bismillah, saya merasa ini satu-satunya cara bagi saya untuk bisa lebih fokus dan tidak terdistraksi dari segala urusan duniawi, baik urusan rumah maupun pekerjaan. Ditambah, banyaknya teman-teman akhwat semakin menambah energi untuk semangat menghidupkan malam-malam sebelum Ramadan berakhir. Karena jujur saja, distraksi di rumah begitu banyak. Baru baca beberapa lembar halaman Al-Qur'an, ketika melihat kasur bawaannya sudah mengantuk. Selalu resah melihat laptop untuk melanjutkan beberapa tugas yang masih tertunda. Suara-suara ramai keponakan saya yang suka bercanda, baku hantam dan terlebih lagi memanggil-manggil "Ondaaaaa"😆
Meski tidak sampai full 10 hari, itikaf ini menjadi momen bagi saya untuk jeda, rehat sejenak dari keriuhan dunia. Momen bagi diri ini merefleksikan diri. Meski masih sangat jauh dari kata sempurna, telah diizinkan-Nya untuk melaksanakan rangkaian ibadah di Ramadan ini adalah nikmat yang tiada tara.
Alhamdulillah ala kulli hal, terima kasih, ya Allah, masih memberikan kami kesempatan menjalani nikmatnya ibadah di Ramadan tahun ini.
Terima kasih telah mempertemukan kami dengan orang-orang baik dan rezeki yang melimpah dengan ragam bentuknya selama Ramadan ini.
Semoga Allah SWT masih memperkenankan kita semua berjumpa kembali di Ramadan yang akan datang.
29 Ramadhan 1447 H
-jurnaldhena
.png)
.png)
.png)
.png)


.gif)
.png)

.png)